Perubahan nama Kabupaten menjadi Kabupaten Sijunjung

Perubahan nama Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung menjadi Kabupaten Sijunjung yang diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 tahun 2008, diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri RI, Mardiyanto, dalam rapat pleno istimewa DPRD, di gedung Pancasila Muaro Sijunjung, Selasa 12 Maret 2008.


Senin, 09 Februari 2009

MEDIA WEBSITE DIKEMBANGKAN

SIJUNJUNG(07/02/09) - Pengembangan tekonologi informasi media website yang kini tengah dilakukan Pemkab Sijunjung, dengan memberdayakan pegawai Dishub Inforkom yang memiliki ilmu di bidang itu, adalah satu terobosan yang sangat tepat dan strategis.

Karena media website sangat membantu dalam pemberian pelayanan secara cepat, kata Kepala Bappeda Kabupaten Sijunjung Drs. Muchlis Anwar, MSM, di ruang kerjanya, Jumat (6/2).

Misalnya dalam menggarap, memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah yang memerlukan investasi cukup besar. Setelah potensi yang dimiliki dipromosikan, melalui media website, investor yang berminat bisa mengajukan permohonan penanaman modal.

Sementara petugas yang ditunjuk, bisa memonitor melalui e-mail secara langsung serta membaca dan meneliti permohonan penanaman modal yang diajukan calon investor.

Jika permohonan yang diajukan sudah lengkap dan telah memenuhi persyaratan, melalui website petugas bisa meberi jawaban dengan cepat.

Begitu juga, bila permohonan kurang lengkap atau tidak memenuhi persyaratan, petugas secara langsung dapat memberi penjelasan pada waktu yang sama.

Artinya, pengunaan media website­, selain murah, juga lebih efisien, karena waktu yang digunakan sangat singkat, sebut Muchlis yang cukup paham dengan Teknologi Informasi (TI).

“Makanya, saya berpendapat, pengembangan media website yang kini tengah dilakukan Pemkab Sijunjung, dengan memanfaatkan tenaga terampil yang ada pada Dishub Inforkom, adalah langkah serta terobosan yang sangat tepat dan strategis, karena dengan media ini kita bisa bersaing dengan daerah lain dalam mempromosikan potensi dan menggaet investor. Masalahnya sekarang, sejauh mana kita mau dan mampu memanfaatkan media yang telah dimiliki, agar keberadaannya benar-benar berhasil dan berdayaguna untuk kemajuan daerah,” tutur Muchlis. –nas (Sijunjung.go.id)

PERHATIKAN SEKTOR PENDIDIKAN

SIJUNJUNG(07/02/09) - Mencermati kondisi saat ini, baik secara nasional maupun daerah, persoalan yang menggejala dan menjadi harapan seluruh lapisan masyarakat, antara lain tersedianya layanan pendidikan dan kesehatan yang mudah dan berkualitas, perekonomian yang baik dan stabil serta infrastruktur yang memadai.

Guna memenuhi harapan masyarakat yang menggejala itu, khusus di Kabupaten Sijunjung, pada tahun 2009 ini pemerintah daerah telah menetapkan pembangunan yang bertema ‘peningkatan kesejahtraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan’.

Menyangkut masalah kemiskinan, memang banyak faktor penyebabnya. Namun berkat upaya dan kerja keras yang dilakukan Pemkab, DPRD dan masyarakat secara bersama, di beberapa sektor sudah terjadi perbaikan.

“Namun dibalik terjadinya perbaikan di beberap sektor, kita juga tidak bisa menutup mata, terhadap angka kemiskinan yang masih tinggi,” kata anggota DPRD Kabupaten Sijunjung H. Iraddatillah, S. Pt, Jumat (6/2), di Muaro Bodi.

Menurut dewan terhormat ini, pada tahun 2005, angka kemiskinan di Kabupaten Sijunjung adalah 28,71 persen. Tahun 2006 28,70 persen dan tahun 2007 29,40 persen. Sebanyak 18,42 persen dari persentase miskin itu, adalah petani pangan dan penganggur yang tingkat pendidikannya relatif rendah.

“Untuk itu, berpijak kepada tema pembangunan yang telah ditetapkan Pemkab, yaitu ‘peningkatan kesejahtraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan,’ kita berharap ke depan sektor pendidikan harus lebih diperhatikan dan dioptimalkan,” kata Iraddatillah.

Seperti kegiatan MGMP dan KKG, tiap tahun anggaran dananya cukup signifikan, tapi manfaatnya secara maksimal masih diragukan. Untuk itu, ke depan perlu dibuat standar dan ukuran keberhasilan MGMP dan KKG itu.

“Dilain hal, kita selalu mendengungkan peningkatan kualitas pendidikan, tapi di sisi lain tenaga pendidik banyak yang berulang dari daerah lain ke Kabupaten Sijunjung, dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebagai contoh, tenaga pendidik yang berulang dari Padang ke Sijunjung setiap hari, guru SMP 13 dua orang, SMK 3 dua orang dan guru SMP 6 satu orang. Pada sekolah yang berada di seputar ibu kabupaten saja kondisinya sudah seperti itu, apa lagi di sekolah yang sulit dipantau, tidak tertutup kemungkinan tenaga pendidik yang berulang jumlahnya lebih banyak,” sebut Iraddatillah.

“Justru itu, supaya kualitas pendidikan di Kabupaten Sijunjung bisa ditingkatkan, kami selaku DPRD berharap kepada Pemkab menyikapi hal yang mungkin menjadi penghalang dalam mewujudkan peningkatan itu, seperti adanya guru yang berulang dari daerah yang cukup jauh,” harap kader terbaik PPP ini. –nas (Sijunjung.go.id)

BERBUSNA TERBUKA - MODEL GILA

SIJUNJUNG(29/01/09) - “Eloklah bapakaian nak. jan co itu. Caliaklah, coa tu. Pusek nampak, pinggang nampak, dado tabukaklo (baik-baik berpakaian nak, jangan seperti itu. Lihatlah, seperti apa itu. Pusar terlihat, pinggang terlihat, dada terbuka pula),” tegur seorang ibu kepada gadisnya saat sigadis turun jenjang hendak keluar rumah.

Tapi, bergemingkah sigadis? Diturutinya nasehat sang ibu? Tidak! Ia terus menuruni anak jenjang, “iko nan mode ma, modeko nan tren kini (ini yang model ma, model ini yang tren sekarang),” jawab sigadis sambil terus melangkah.

Nauzubillahminzalik. Jika jawaban sigadis benar, agaknya inilah model yang paling entong dan gila di alam Minangkabau yang adatnya basandi syarak, syarakat basandi kitabullah.

Apa sebenarnya yang diharap sigadis, sukakah pemuda memandangnya? Tentu suka! Tapi tidak pemuda baik-baik. Karena pemuda beriman dan berbudi mulia jijik melihatnya.

Seperti pengakuan Rahmad di Kupitan, pakaian ketat dan baju senteang yang digemari sebagian ABG (Anak Baru Gadang), bukanlah model. Tapi pembodohan dan pelecehan diri sendiri.

Selain itu, manjua pusek jo memamerkan sebagian buah dada, sama dengan menjatuhkan harkat dan martabat ABG itu sendiri sebagai wanita Minang.

Disamping pembodohan dan pelecehan diri sendiri, dengan berbusana serba ketat dan minim, sesungguhnya ABG itu telah mengobral dan menjual murah sesuatu yang sangat berharga pada dirinya. Karena kehormatan dan kebanggaan yang seharusnya disembunyikan secara rapi, telah mereka pertontonkan secara lugas.

Apakah ini yang disebut model? Kalau memang model, agaknya inilah model yang paling entong dan gila, di alam Minangkabau, sajak dunia takambang, tandas Rahmad.

Namun di balik semua itu, menurut pemuda lain, Endri, gemar dan hobinya sebagian kaum wanita berbusana indak sanere, kesalahan tidak bisa dilemparkan sepenuhnya kepada mereka.

Sebab, kalau mereka masi ABG, tentu punya orangtua yang akan menunjuk ajari serta menasehati. Jika sudah berstatus istri, suami berkewajiban dan bertanggungjawab menuntun dan membina ke arah yang baik dan benar sesuai ajaran Islam serta norma adat dan budaya masyarakat Minangkabau.

Lalu bagaimana dengan gadis yang berbusana muslimah dan berjilbab? Ternyata cukup banyak pemuda yang menyukai dari pada gadis pengobral paha, pusar dan sekwilda (baca sekitar wilayah dada).

Tapi yang menyukai, tentunya pemuda yang berjiwa Islami, taat beribadah, beraklaq, beriman dan berbudi mulia, bukan pemuda yang jauh dari agama.

Kenapa mereka menyukai? Alasannya cukup mendasar. Dimata pemuda beriman, gadis berbusana muslimah lengkap dengan jilbab, terlihat lebih anggun, berwibawa dan memiliki daya tarik mendalam.

Sementara gadis pengobral aurat, selain gadis murahan juga racun dunia, karena di balik lekuk tubuh yang dipertontonkan, tersimpan setumpuk dosa.

“Kalau saya sejak duluh lebih menyukai gadis berbusana muslimah, dari pada gadis yang berpakaian ketat. Apa lagi yang menjatuhkan martabatnya sendiri dengan mengobral aurat,” aku seorang pemuda Sijunjung, Hidayat.

Malah di lubuk hati yang paling dalam terpatri tekat untuk berusaha mencari gadis Islami sebagai pendamping hidup, bila Allah SWT mengizinkan. Sebab langkah, rezki, jodoh dan maut, adalah rahasia Tuhan, sebagai insan lemah, manusia hanya bisa berusaha dan berencana, keputusan akhir tetap di tangan-Nya, urai Hidayat.

Gadis yang gemar berbusana muslimah lengkap dengan jilbab, dimata Hidayat, selain anggun, mempesona serta memiliki karisma dan daya tarik tersendiri, juga cermin dan pantulan dari jiwa sigadis yang taat kepada Allah SWT.

Karena yang namanya iman, bukan hanya sebuah pengakuan dan identitas, tapi sesuatu yang telah diyakini dalam hati, sehingga melahirkan amal perbuatan baik dan mulia.

Senada dengan Hidayat, seorang karyawan kantor Bupati Sijunjung, Erman, juga menyebutkan bahwa gadis yang gemar berbusana muslimah, bukan hanya sekedar disegani dan dihormati kaum pria, tapi juga mulia di sisi Allah SWT.

Dari pengakuan dan pendapat sejumlah pemuda ini, dapat diambil kesimpulan, pemuda baik dan beraklaq mulia akan mencari pasangan hidup, gadis yang baik pula. Artinya sangat mustahil gadis pengobral pusar dan wilayah dada, dipersunting oleh seorang pemuda Islami dan beriman.

Ini tentunya peringatan dan aba-aba bagi para gadis, terutama anak jolong gadang nan suko bapakaian indak sanere.
Sadar dan ketahuilah, pemuda baik, beradat dan bermoral tidak menyukai gadis murahan yang melecehkan diri seperti kamu-kamu.-nas (sijunjung.go.id)

Jumat, 01 Agustus 2008

UNTUK MEMELIHARA KESEHATAN - RAKYAT MISKIN TERIMA JAMKESMAS

SIJUNJUNG(30/07/08) - Kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) untuk 42.681 rakyat miskin, diserahkan oleh Kepala Asuransi Kesehatan (Askes) Cabang Solok, Elvaneti, S.Si, Apoteker, kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan Kemiskinan (PMPK) Kabupaten Sijunjung Drs. Abasri Jusad, SH. M.Hum, MM, di ruang rapat dinas tersebut, Selasa (29/7).

Penyerahan kartu Jamkesmas yang ditandai dengan penandatanganan berita acara serahterima, disaksikan Kepala Kantor Catatan Sipil dan Keluarga Berencana, Jaheri M. Si, Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kesehatan, Jhon Iswar, SH dan Kepala Bidang Sosial Dinas Sosnakertrans Dra. Basinar serta sejumlah pejabat Dinas PMPK.

Elvaneti mengatakan, sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah pusat, quota Jamkesmas Kabupaten Sijunjung adalah untuk 52.702 rakyat miskin. Namun data penduduk miskin yang disampaikan Pemkab Sijunjung kepada Askes Cabang Solok, hanya 44.543 jiwa.

Setelah data yang disampaikan diteliti secara cermat oleh petugas Askes Solok, cukup banyak nama calon penerima kartu Jamkesmas yang double, sehingga data falid dan akurat yang bisa dipertanggungjawabkan hanya 42.681 jiwa.

“Berdasarkan data itulah kami membuat kartu Jamkesmas yang hari ini kartu itu kami serahkan seluruhnya kepada pemerintah Kabupaten Sijunjung,” jelasa Elvaneti.

Agar kekurangan quota 10.021 terpenuhi, Kepala Askes Cabang Solok berharap kepada Pemkab Sijunjung segera mengirimkan data penduduk miskin, supaya kartu Jamkesmas bisa dibuat dalam waktu tidak terlalu lama.

Tentang 42.681 kartu Jamkesmas yang telah diserahkan, supaya bisa dimanfaatkan oleh rakyat miskin dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan dirinya, kepada aparatur Dinas PMPK, Elvaneti sangat mengharapkan bantuannya untuk mendistribusikan sesegera mungkin.

Sesuai petunjuk Menteri Kesehatan RI, pada Bulan Agustus mendatang, kartu Jamkesmas sudah bisa dipergunakan oleh rakyat miskin dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan dirinya.

Disamping bisa dimanfaatkan mulai Bulan Agustus, pada 1 September, Menteri Kesehatan juga telah memutuskan bahwa pada 1 September, surat keterangan tidak mampu dan kartu Askeskin tidak berlaku lagi.

“Untuk itu, kami sangat berharap bantuan aparatur Dinas PMPK mendistribusikan kartu ini sesegera mungkin kepada pemegangnya, supaya rakyat miskin tidak terkendala dalam berobat,” harap Kepala Askes Cabang Solok, Elvaneti.

Memenuhi harapan Elvaneti, Kepala Dinas PMPK Abasri Jusad mengaku akan berusaha mendistribusikan dan menyalurkan kartu Jemkesmas tersebut secepat mungkin secara berjenjang.

Artinya, bila Bupati Sijunjung menyetujui, pemerintahan kabupaten c/q Dinas PMPK menyerahkan kepada camat, camat kepada walinagari, walinagari kepada Kepala jorong dan Kepala jorong menyerahkan kepada rakyatnya.

“Karena kartu Jamkesmas sangat berarti dan berguna bagi rakyat miskin, kami akan meminta petunjuk dan persetujuan kepada bupati supaya bisa dididistribusikan secepa mungkin,” kata Abasri Jusad. -nas

PROGRAM BKMN DIGULIR - EKONOMI RAKYAT DIHARAPKAN MENINGKAT

SIJUNJUNG(30/07/08) - Anggota DPRD Ir. Yos Jodi berharap progam Bantuan Kredit Mikro Nagari (BKMN) yang digulir Pemkab Sijunjung mampu mengubah perekomian rakyat kearah yang lebih baik.

Untuk itu, disamping menyerahkan modal, dengan melibatkan unit kerja lain, aparatur Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan Kemiskinan (PMPK) selaku leadyng sector program BKMN, juga diharapkan memberikan bimbingan teknis kepada masyarakat penerima kredit, sesuai bidang usaha yang dilakukan.

“Sesuai tujuan, program BKMN yang digulir Pemkab Sijunjung adalah untuk mengurangi kemiskinan. Supaya tujuan mencapai sasaran dan harapan, disamping menyerahkan modal, dengan melibatkan unit kerja lain, hendaknya aparatur PMPK selaku leadyng sector juga memberi bimbingan teknis kepada masyarakat penerima kredit, sesuai bidang usaha yang dilakukan,” kata Yos Jodi, Selasa (29/7), di gedung dewan.

Selain memberi bimbingan teknis, kepada Pemkab dewan terhormat ini juga berharap tidak menyerahkan BKMN terhadap masyarakat yang setengah hati dalam berusaha, tapi berikan kepada rakyat yang mau mengubah nasib dengan bekerja keras dan sungguh-sungguh.

Sementara kepada masyarakat penerima BKMN, Yos Jodi mengimbau agar melaksanakan program ini sebaik dan seoptimal mungkin. Pahami petunjuk teknis, penuhi persyaratan dan taati aturan yang telah ditentukan, supaya niat baik pemerintah membuahkan hasil sesuai harapan.

Kepala Dinas PMPK Kabupaten Sijunjung, Drs. Abasri Jusad, SH. M. Hum, MM, mengatakan, dalam upaya mengurangi kemiskinan, sekaligus dalam usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat, Pemkab Sijunjung, pada tahun 2008 ini salurankan dana BKMN Rp4,8 miliar kepada 16 nagari, dengan indeks Rp300 juta/nagari.

Ke-16 nagari yang akan melaksanakan program BKMN itu, Solok Ambah, Sungai Betung, Palangki, Tanjung Lolo, Buluh Kasok, Tamparungo, Limo Koto, Batu Manjulur, Durian Gadang, Muaro Takung, Mundam Sakti, Langki, Lubuak Tarok, Manganti, Padang Laweh dan Nagari Pamuatan.

Sebelum BKMN dikucurkan, diselenggarakan sosialisasi terhadap kelompok kerja BKMN, aparat pemerintah nagari dan tim koordinator kecamatan yang langsung diketuai oleh camat bersangkutan.

Sasaran penyaluran BKMN, adalah rumah tangga miskin dengan memprioritaskan kelompok usaha yang mempunyai prospek baik dalam pengembangan ekonomi. Kelompok masyarakat miskin yang diprioritaskan, adalah Kepala Keluarga (KK) miskin yang telah terdaftar kedalam kelompok hasil pendataan KK Miskin.

Kegiatan atau jenis usaha kelompok yang dinilai mempunyai prospek baik dalam pengembangan ekonomi, adalah yang sesuai dengan potensi sumber daya masyarakat yang ada di masing-masing nagari serta mempunyai kaitan usaha dengan kelompok lainnya.

Tujuan utama BKMN, memberikan stimulasi modal usaha bagi keluarga miskin ditingkat nagari, agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Tujuan lain, terciptanya perilaku positif pada keluarga miskin dan stakeholders terkait, meningkatnya pendapatan masyarakat miskin melalui pemberdayaan sosial dan ekonomi serta terselenggaranya sistim perencanaan dan pengawasan pembangunan yang partisipatif.

Disamping itu, terwujudnya sinergitas program pemerintah pusat, provinsi serta pemerintah kabupaten dan masyarakat/stacholders, meningkatnya partisipasi perantau dalam menanggulangi kemiskinan di nagari, tumbuhnya rasa hidup bernagari di tengah-tengah masyarakat dan terbangunnya kapasitas nagari sebagai basis ketahanan masyarakat, jelas Abasri Jusad. -nas

Join Vinefire!